Jumat, 12 Oktober 2012

PENGERTIAN BANDARA, FASILITAS BANDAR UDARA, FASILITAS PELAYANAN BANDARA, DVOR (DOPPLER VHF OMNI-DIRECTIONAL RANGE), BENTUK DAN FUNGSI MENERA ATC ( AIR TRAFFIC CONTROL ), SISTEM NAVIGASI PESAWAT TERBANG, PERALATAN RAMBU UDARA RADIO PERALATAN RAMBU UDARA RADIO


KATA PENGANTAR

Di era globalisasi seperti ini kebutuhan akan sarana transportasi yang nyaman, murah dan cepat sangat dibutuhkan oleh setiap orang dan transportasi yang cukup populer bagi mereka yang membutuhkan efisiensi waktu dan kenyamanan adalah pesawat terbang.
Industri penerbangan di Indonesia sendiri sekarang ini berkembang cukup pesat, ditandai dengan banyaknya penerbangan domestik maupun internasional, banyaknya maskapai-maskapai penerbangan baru dan bertambahnya bandar udara (Bandara) di berbagai daerah di Indonesia.
Namun untuk membangun sebuah bandar udara tidak semudah itu, sebab membangun suatu bandara harus mempertimbangkan berbagai faktor, mulai dari faktor alam seperti angin, ketinggian daratan maupun kondisi tanah. Selain itu harus membangun berbagai fasilitas dan menyediakan sisem peralatan seperti radar dan navigasi, dalam makalah ini akan diulas sedikit mengenai sistem navigasi dan peralatan yang terdapat di bandara.

A.    PENGERTIAN BANDARA
        Bandar udara (disingkat: bandara) atau pelabuhan udara merupakan sebuah fasilitas tempat pesawat terban dapat lepas landas danmendarat. Bandar udara yang paling sederhana minimal memiliki sebuah landas pacu namun bandara-bandara besar biasanya dilengkapi berbagai fasilitas lain, baik untuk operator layanan penerbangan maupun bagi penggunanya. Menurut Annex 14 dari ICAO (International Civil Aviation Organization): Bandar udara adalah area tertentu di daratan atau perairan (termasuk bangunan, instalasi dan peralatan) yang diperuntukkan baik secara keseluruhan atau sebagian untuk kedatangan, keberangkatan dan pergerakan pesawat.
           Sedangkan definisi bandar udara menurut PT (persero) Angkasa Pura adalah "lapangan udara, termasuk segala bangunan dan peralatan yang merupakan kelengkapan minimal untuk menjamin tersedianya fasilitas bagi angkutan udara untuk masyarakat".

B.     FASILITAS BANDAR UDARA
Fasilitas bandar udara yang terpenting adalah:
  1. Sisi Udara (Air Side)
  •  Landasan pacu yang mutlak diperlukan pesawat. Panjangnya landas pacu biasanya tergantung dari besarnya pesawat yang dilayani. Untuk bandar udara perintis yang melayani pesawat kecil, landasan cukup dari rumput ataupun tanah diperkeras (stabilisasi). Panjang landasan perintis umumnya 1.200 meter dengan lebar 20 meter, misal melayani Twin Otter, Cessna, dll. pesawat kecil berbaling-baling dua (umumnya cukup 600-800 meter saja). Sedangkan untuk bandar udara yang agak ramai dipakai konstruksi aspal, dengan panjang 1.800 meter dan lebar 30 meter. Pesawat yang dilayani adalah jenis turbo-prop atau jet kecil seperti Fokker-27, Tetuko 234, Fokker-28, dlsb. Pada bandar udara yang ramai, umumnya dengan konstruksi beton dengan panjang 3.600 meter dan lebar 45-60 meter. Pesawat yang dilayani adalah jet sedang seperti Fokker-100, DC-10, B-747, Hercules, dlsb. Bandar udara international terdapat lebih dari satu landasan untuk antisipasi ramainya lalu lintas.
  • Apron adalah tempat parkir pesawat yang dekat dengan bangunan terminal, sedangkan taxiway menghubungkan apron dan run-way. Konstruksi apron umumnya beton bertulang, karena memikul beban besar yang statis dari pesawat
  • Untuk keamanan dan pengaturan, terdapat Air Traffic Controller, berupa menara khusus pemantau yang dilengkapi radio control dan radar.
  • Karena dalam bandar udara sering terjadi kecelakaan, maka diseduiakan unit penanggulangan kecelakaan (air rescue service) berupa peleton penolong dan pemadan kebakaran, mobil pemadam kebakaran, tabung pemadam kebakaran, ambulance, dll. peralatan penolong dan pemadam kebakaran
  •  Juga ada fuel service untuk mengisi bahan bakar avtur.

  1. Sisi Darat (Land Side)
·     Terminal bandar udara atau concourse adalah pusat urusan penumpang yang datang atau pergi. Di dalamnya terdapat pemindai bagasi sinar X, counter check-in, (CIQ, Custom - Inmigration - Quarantine) untuk bandar udara internasional, dan ruang tunggu (boarding lounge) serta berbagai fasilitas untuk kenyamanan penumpang. Di bandar udara besar, penumpang masuk ke pesawat melalui garbarata atau avio bridge. Di bandar udara kecil, penumpang naik ke pesawat melalui tangga (pax step) yang bisa dipindah-pindah.
·      Curb, adalah tempat penumpang naik-turun dari kendaraan darat ke dalam bangunan terminal
·       Parkir kendaraan, untuk parkir para penumpang dan pengantar/penjemput, termasuk taksi

C.    FASILITAS PELAYANAN BANDARA
           Adalah fasilitas yang berfungsi memberikan pelayanan operasi dan keselamatan operasi terkait pelayanan umum. Pelayanan umum yang diberikan mulai dari informasi berupa audio maupun video kepada pengguna yang ada di bandar udara ataupun petugas yang terkait langsung dalam kegiatan kegiatan operasional kantor bandar udara. Beberapa peralatan yang termasuk Peralatan Pelayanan Bandara, adalah : 
·       PABX (Public Address Branch X-Change) 
Yang dimaksud dengan peralatan Public Address Branch Extension (PABX) adalah perangkat peralatan telepon yang terdiri dari Central unit atau Main Unit, Pesawat cabang, Kabel-kabel penghubung dan Terminal Box. Central unit adalah perangkat peralatan utama pengontrol semua sistem operasi PABX yang berfungsi untuk menghubungkan antar pesawat cabang dan dengan telephone line PT. TELKOM serta mengatur, membatasi dan memantau pemakaian masing-masing pesawat cabang dengan telephone line. Pesawat cabang adalah pesawat telepon yang dapat berhubungan antara satu pesawat dengan pesawat-pesawat lain maupun berhubungan melalui telephone line dalam satu jaringan Central Unit. 
·       FIDS (Flight Information Display System) 
Peralatan Flight Information Display System (FIDS) merupakan integrasi produk teknologi informasi system sebagai perangkat software dan perangkat hardware yang dapat menyajikan informasi tentang aktivitas angkutan udara, seperti pemberitahuan jadwal keberangkatan, kedatangan pesawat, keterlambatan dan pembatalan penerbangan dan lain-lain.
·       Public address system ( PAS) 
Peralatan Public Address System (PAS) bandara adalah salah satu peralatan system audio yang fungsinya untuk menyampaikan informasi-informasi yang berkaitan semua kegiatan di terminal bandar udara. Informasi ini dapat berupa kegiatan angkutan udara seperti pemberitahuan jadwal keberangkatan, kedatangan pesawat, keterlambatan termasuk pembatalan penerbangan dan sebagai pelengkap hiburan audio. IGCS (Integrated Ground Communication System) Sistem komunikasi darat ke darat terpadu yang menggunakan system trunking sebagai alat bantu komunikasi yang digunakan oleh seluruh satuan kerja yang beroperasi di bandara. 
·       HT (Handy Talky) 
Yang dimaksud dengan peralatan Handy Talky (HT) Transceiver adalah peralatan UHF-FM Transceiver (Transmitter dan Receiver) dengan system multi channel dan digunakan sebagai sarana komunikasi point to point (darat ke darat) dalam bentuk portable.
D.    DVOR (DOPPLER VHF OMNI-DIRECTIONAL RANGE)
       DVOR  adalah  fasilitas  navigasi  udara  yang  sangat  penting. Fasilitas ini memiliki  kegunaan  untuk  memberikan  suatu informasi  kepada  penerbang  mengenai  arah mata angin buatan dan bekerja pada frekuensi 108 MHz sampai dengan 118 MHz.  Sistem  Doppler  VOR  yang  ada  di Bandara  Cilacap  terdiri  dari  2 transmitter  dengan  perubahan  otomatis apabila  terjadi  kesalahan  dalam  performa atau  mati  total  pada  salah  satu transmitternya.  DVOR  menggunakan  sistem antena  tunggal  yang  memberikan  pancaran ke  segala  arah  (omnidirectional)  dan  48 antena  non  directional  yang  diletakkan mengelilingi  antena  pusat  dalam  bentuk lingkaran  dengan  diameter  44  ft  yang memberikan pancaran Doppler.  Pola pancaran dari DVOR dihasilkan antara  sinyal  Referensi  yang dipancarkan oleh antena carrier dan sinyal Variabel yang dipancarkan oleh antena sideband.  Sinyal DVOR DVOR  memancarkan  dua  sinyal yang berbeda yaitu :
a.     Sinyal Referensi adalah sinyal 30 Hz AM dipancarkan dengan fase sesaat seragam ke segala arah yang dihasilkan dari sinyal RF carrier (fc) yang dimodulasi AM dengan sinyal 30 Hz seperti pada
Gambar 1. Modulasi AM antara 30 Hz referensi dan sinyal carrier.

Kemudian sinyal yang dihasilkan ini  dipancarkan oleh antena carrier yang berada di tengah-tengah kesatuan antena  DVOR.

b.  Sinyal Variabel adalah sinyal yang dihasilkan dari modulasi frekuensi yang  berasal dari simulasi pergerakan atau perputaran sumber sinyal RF non directional (fc±9960 Hz) di sekeliling lingkaran dengan diameter lingkaran 44 ft (13.4 m) dengan kecepatan 180 menimbulkan modulasi frekuensi 30 Hz. Hal ini dilakukan dengan penghubung saklar elektronik secara berurutan pada setiap antena antena) yang terletak di sekeliling antena carrier. Pola pembentukan sinyal Variabel ditunjukkan pada gambar 4.2.
Gambar 2.  Pola pembentukan sinyal Variabel.

Percampuran  antara  sinyal  Referensi  dan sinyal  Varibel  terjadi  di  udara  (space  modulation Kombinasi  sinyal  Referensi  dan  sinyal  Variabel yang  dipancarkan  ke  udara  akan  menghasilkan frekuensi  carrier  yang  dimodulasi  AM  oleh  9960  Hz  (sub  carrier).  Selanjutnya  9960  Hz bermodulasi  dengan  30  Hz  FM  karena  efek Doppler.  Dengan  demikian menunjukkan  hasil  pancaran  DVOR  untuk modulasi di udara dari sinyal-sinyal tersebut.
Gambar 3. Sinyal pancaran dari DVOR

Sinyal  Referensi  dan  sinyal  Variabel umumnya  digambarkan  sebagai  pola  fase  sesaat, pada  saat  beda  fase  kedua  sinyal  ini  sama  maka akan  menunjukkan  line  off  magnetic  North Dimanapun  lokasi  pesawat  yang  berada  di  dalam 30 Hz seperti pada gambar 4.1. Modulasi AM antara 30 Hz referensi dan Kemudian sinyal yang dihasilkan ini  yang berada di tengah kesatuan antena  DVOR. Sinyal Variabel adalah sinyal yang dihasilkan dari modulasi frekuensi yang  berasal dari simulasi pergerakan atau perputaran sumber (fc±9960 Hz) di sekeliling lingkaran dengan diameter lingkaran 44 ft (13.4 m) dengan kecepatan 1800 rpm yang menimbulkan modulasi frekuensi 30 Hz. Hal ini dilakukan dengan penghubung saklar elektronik secara berurutan pada setiap antena sideband (48 antena) yang terletak di sekeliling antena . Pola pembentukan sinyal Variabel Pola pembentukan sinyal Variabel. Percampuran  antara  sinyal  Referensi  dan space  modulation). Kombinasi  sinyal  Referensi  dan  sinyal  Variabel yang  dipancarkan  ke  udara  akan  menghasilkan yang  dimodulasi  AM  oleh  9960 Selanjutnya  9960  Hz  subcarrier bermodulasi  dengan  30  Hz  FM  karena  efek Doppler.  Dengan  demikian  gambar  4.3 menunjukkan  hasil  pancaran  DVOR  untuk sinyal tersebut. Sinyal pancaran dari DVOR Sinyal  Referensi  dan  sinyal  Variabel umumnya  digambarkan  sebagai  pola  fase  sesaat, pada  saat  beda  fase  kedua  sinyal  ini  sama  maka line  off  magnetic  North. Dimanapun  lokasi  pesawat  yang  berada  di  dalam relasi  untuk  menuju  DVOR  dapat  secara seksama  menentukan  arah  dari  perbedaan fase  antara  sinyal  Referensi  dan  sinyal Variabel.  Perbedaan  fase  antara  sinyal Variabel  dan  sinyal  Referensi  terhadap  arah ditunjukkan pada gambar 4.4


Gambar 4. Perbedaan fase antara sinyal Variabel dan sinyal Referensi
Antena DVOR

Dalam  pemasangan  antenna DVOR  kita  harus  berhati menentukan  tinggi  antenna tersebut.Sebab  sedikit  kesalahan  saja akan  dapat  mempengaruhi  kekuatasinyal  yang  akan  dipancarkan.  Untuk Itula h  kita  harus  dapat    menentukan tinggi  antenna  yang  tepat  agar  sinyal yang dipancarkan dapat maksimal.  Ketika  antenna  dipasang,  pada titik  yang  sangat  jauh  dari  antena  akan menerima 2 sinyal sekaligus. Satu adalahsinyal  yang  berasal  dari  radiasi  langsung antenna  dan  yang  satu  lagi  adalah  sinyal yang berasal dari sinyal yang dipantulkan oleh  tanah.  Sinyal  pantulan  memiliki lintasan  yang  lebih  panjang  dari  sinyal langsung  sehingga  dapat  menimbulkan perbedaan  fasa  dari  2  sinyal  tersebut. Akibat  pemantulan  dihasilkan  perubahan fasa  1800  ,  oleh  karena  itu  jika perbedaannya  lebih  dari  180 (atau  kelipatannya  1  ½ maka  kedua  sinyal  akan  diterima  dalam satu  fasa  sehingga  akan  saling menambah.  Jika  panjang  lintasan  1 atau  kelipatannnya  (  2λkedua sinyal akan saling mengurangi atau bahkan  akan  saling  menghilangkan. Gambar  4.5  di  bawah  ini  mennjuksinyal  yang  akan  diterima  oleh  pesawat yaitu  sinyal  langsung  dan  sinyal  tidak langsung  yang  berasal  dari  pantulan tanah. relasi  untuk  menuju  DVOR  dapat  secara seksama  menentukan  arah  dari  perbedaan fase  antara  sinyal  Referensi  dan  sinyal Variabel.  Perbedaan  fase  antara  sinyal Variabel  dan  sinyal  Referensi  terhadap  arah gambar 4.4. Perbedaan fase antara sinyal Variabel dan sinyal Referensi Dalam  pemasangan  antenna DVOR  kita  harus  berhati-hati menentukan  tinggi  antenna tersebut.Sebab  sedikit  kesalahan  saja akan  dapat  mempengaruhi  kekuatan sinyal  yang  akan  dipancarkan.  Untuk itulah  kita  harus  dapat    menentukan tinggi  antenna  yang  tepat  agar  sinyal yang dipancarkan dapat maksimal. Ketika  antenna  dipasang,  pada titik  yang  sangat  jauh  dari  antena  akan menerima 2 sinyal sekaligus. Satu adalah sinyal  yang  berasal  dari  radiasi  langsung antenna  dan  yang  satu  lagi  adalah  sinyal yang berasal dari sinyal yang dipantulkan oleh  tanah.  Sinyal  pantulan  memiliki lintasan  yang  lebih  panjang  dari  sinyal langsung  sehingga  dapat  menimbulkan ri  2  sinyal  tersebut. Akibat  pemantulan  dihasilkan  perubahan ,  oleh  karena  itu  jika perbedaannya  lebih  dari  1800  misal  ½  λ (atau  kelipatannya  1  ½  λ,  2  ½  λ  ,  …) maka  kedua  sinyal  akan  diterima  dalam satu  fasa  sehingga  akan  saling menambah.  Jika  panjang  lintasan  1  λ, λ,  3λ,  …),  maka kedua sinyal akan saling mengurangi atau bahkan  akan  saling  menghilangkan. di  bawah  ini  mennjukkan  2 sinyal  yang  akan  diterima  oleh  pesawat yaitu  sinyal  langsung  dan  sinyal  tidak langsung  yang  berasal  dari  pantulan

Gambar 5. Image Antenna

(collocated) dengan VOR atau Glide Path ILS yang ditempatkan di dalam atau diluar lingkungan bandara tergantung fungsinya. Pola Radiasi DVOR Pola  radiasi  yang  dihasilkan  oleh  antena DVOR  yaitu  pola  radiasi  yang  memiliki  3  lobe utama dengan pusat di 80 , 280 , dan 50
Gambar 6. Tiga major lobe centred

Dari    gambar  4.6  di  atas  terlihat  ada  jarak yang  cukup  besar  antara  lobe  yang  satu  dengan yang  lainnya.  Yang  menyebabkan  tidak  adanya radiasi  (diakibatkan  adanya  penghilangan  antara sinyal langsung dan sinyal pantul)   Untuk  mengatasi  hal  tersebut  maka  DVOR akan  dipasang  Counterpoise  (  penyeimbang tambahan)  yang  dipasang  tepat  dibawah  antena yang  bertindak  sebagai  area  pantul  tambahan.  Jika antena dipasang ½ λ diatas Counterpoise maka akan menghasilkan  lobe  energi  utama  yang  melebar  dan berpusat di 300 . 
Gambar 7. Major lobe centered yang menggunakan
Counterpoise

Kombinasi  radiasi  sinyal  yang  berasal  dari tanah  dan  dari  pantulan  Counterpoise  akan menghasilkan radiasi keseluruhan dari DVOR yang akan  menghasilkan  cakupan  yang  lebih  luas  pada sudut  antara  00    sampai  600  yang  terlihat  pada gambar 4.7. Sedangkan daerah tepat di atas DVOR (sudut  lebih  dari  600)  tidak  terdapat  radiasi  dan biasa  disebut  dengan  area  Cone  of  Silence dapat dilihat pada gambar 4.8.

Gambar 8. Daerah cone of silence DVOR

Ukuran  dari  Counterpoise  secara  nyata  berpengaruh  pada  pola  radiasi  yang  akan  bertindak  sebagai  reflector (pemantul)  diatas  sudut  tertentu.Sedang pada  sudut  dibawah  sudut  ini reflector  adalah permukaan  tanah.  Sudut  ini dinamakan  sudut  kritis  dan  dapat  dihitung dengan menggunakan  formula  sebagai berikut : 

Oleh  karena  itu,  cakupan  sudut  rendah dihasilkan  dari  pantulan  permukaan  tanah sedangkan  untuk  cakupan  sudut  tinggi dihasilkan dari pantulan Counterpoise Ketika  pesawat  menggunakan  fasilitas  TERMINAL  DVOR  yang  berada  di bawah  sudut  100  (akan  mendarat) akan menerima  sinyal pantul dari permukaan tanah.  Sedangkan  pesawat  yang menggunakan  fasilitas  DVOR  selama perjalanan  akan  menerima  sinyal  dari Counterpoise.


Gambar 9. Bentuk fisik dari kesatuan Bentuk fisik dari kesatuan  DVOR di Bandara Cilacap
Pola pancaran dari DVOR AWA VRB 51D dihasilkan antara sinyal Referensi yang dipancarkan oleh  antena  carrier  dan  sinyal  Variabel  yang dipancarkan  oleh  antena  sideband antara sinyal Referensi dan sinyal Varibel terjadi di udara  (space  modulation).  Keberadaan  antena carrier  berada  di  tengah  dan dikelilingi  oleh  48 antena sideband pada jari-jari 22 ft. Pola pancaran dari DVOR AWA VRB 51D dihasilkan antara sinyal Referensi yang dipancarkan dan  sinyal  Variabel  yang sideband.  Percampuranan sinyal Varibel terjadi di).  Keberadaan  antena berada  di  tengah  dan  dikelilingi  oleh  48 antena sideband pada jari-jari 22 ft.
Gambar 10. Bentuk umum   VOR

   E.     BENTUK DAN FUNGSI MENERA  ATC (  AIR TRAFFIC CONTROL  )
Gambar 11. Menara ATC Bandara Cilacap

Salah satu peralatan elektronik di bandar udara yang berfungsi sebagai alat yang menunjang keselamatan penerbangan adalah Recorder System. Recorder System adalah suatu peralatan elektronik yang berguna untuk merekam semua pembicaraan petugas Air Traffic Service (ATC) dengan Pilot di pesawat udara. Dan dengan adanya Recorder System di bandar udara, maka apabila ada terjadi suatu kecelakaan atau terjadi kesalahan ATC dalam memandu pesawat akan ada kejelasan dimana posisi terjadi kesalahan. Apakah dari pihak Pilot di pesawat udara ataukah di Air Traffic Control (ATC) dalam memandu di bandar udara. Sehingga tidak ada lagi yang saling menyalahkan tanpa dasar yang jelas.
Ada tiga peralatan utama yang yang di rekam oleh Recorder System di bandara, yaitu :
  1. Voice dari Radio Komunikasi. Salah satu peralatan petugas Air Traffic Control (ATC) di bandar udara dalam memandu pesawat udara adalah Radio Komunikasi. Semua percakapan petugas ATC yang mengontrol baik yang bertugas di Tower maupun di Approach (APP) dalam memandu pesawat udara di rekam oleh Recorder System. Apabila ada Miss sehingga terjadi perbedaan persepsi antara petugas ATC danPilot maka dengan dibuka kembali hasil rekaman tersebut akan diketahui mana yang salah diantara mereka.
  2. Telepon. Dalam setiap koordinasi petugas Air Traffic Control (ATC) di bandara sering menggunakan peralatan telepon. Untuk menjaga Miss Komunikasi, telepon yang dipakai koordinasi ATC juga direkam oleh Recorder System.
  3. Direct Speech (DS). Direct Speech atau DS adalah sarana telepon langsung yang digunakan untuk koordianasi antar bandara melalui VSAT (satelit). Untuk menjaga Miss Komunikasi, Direct Speech (DS) yang dipakai untuk koordinasi antara petugas ATC dibandara satu dengan bandara lain juga direkam oleh Recorder System
Sebuah menara pengawas (control  tower ) atau lebih khusus sebagai  Air Traffic Control Tower ,adalah nama dari unit ATC yang bertanggung jawab untuk pergerakan sekeliling bandara dan juga nama dari bangunan untuk unit yang mengoperasikan .Banyak bandara di Indonesia yang tidak mempunyai tower  atau frekuensi,hanya bandara tersibuk sajalah yang mempunyai tower contohnya Soekarno Hatta yang diatur oleh menara pengAwas. Menara ATC yang permanen ,mempunyai spesifikasi yang secara system struktur  biasanya berdiri di atas bangunan lain di bandara untuk memudahkan petugas pemandu lalu lintas udara mengawasi pergerakan pesawat didarat dan di udara bandara.
Tipikal Menara ATC ,terdiri dari beberapa peralatan :
  1. Radio untuk berkomunikasi dengan pesawat.
  2. Sistem telepon yang berhubungan dengan jalur suara dan telepon umu
  3. Flight Progress Strip
  4. Deteksi sinar atau aviation light signals,untuk berkomunikasi dengan pesawat.
  5. Alat pengatur angin dan tekanan
  6. Mempunyai display radar kecil,deteksi pergerakan  dan informasi meteorology
Tujuan dari peralatan ini untuk membantu operasi pengaturan lalu lintas udara untuk  menghindarkan tabrakan antar pesawat udara,menghindarkan pesawat udara yang berada di daerah pergerakan pesawat  dengan penghalang lainnya dan terciptanya keteraturan lalu lintas udara.

     F.      SISTEM NAVIGASI PESAWAT TERBANG
Semua pesawat terbang dilengkapi dengan sistem navigasi agar pesawat tidak tersesat dalam melakukan penerbangan. Panel-panel instrument navigasi pada kokpit pesawat memberikan berbagai informasi untuk sistem navigasi mulai dari informasi tentang arah dan ketinggian pesawat. Pengecekan terhadap instrument sistem navigasi harus seteliti dan seketat mungkin. Sebagai contoh kejadian yang menimpa pesawat Adam Air pada bulan pebruari 2006 sewaktu menjalani penerbangan dari bandara Soekarno Hatta menuju bandara Hasanudin di Makasar. Ketidaktelitian pihak otoritas penerbangan yang mengijinkan pesawat Adam Air terbang dengan sistem navigasi yang tidak berfungsi menyebabkan Pesawat Adam Air berputar-putar di udara tanpa tahu arah selama tiga jam, sebelum mendarat darurat di bandara El Tari Nusa Tenggara Timur. Kesalahan akibat tidak berfungsinya system navigasi adalah kesalahan yang fatal dalam dunia penerbangan. Sanksi yang diberikan adalah dicabutnya ijin operasi bagi maskapai penerbangan yang melanggar.
a.      Fasilitas Navigasi di Bandara
      Fasilitas Navigasi dan Pengamatan adalah salah satu prasarana penunjang operasi bandara. Fasilitas ini dibagi menjadi dua kelompok peralatan, yaitu:
1.      Pengamatan Penerbangan
2.      Rambu Udara Radio
b.      Peralatan Pengamatan Penerbangan
Peralatan pengamatan Penerbangan terdiri dari :
1)  Primary Surveillance Radar (PSR) 
PSR merupakan peralatan untuk mendeteksi dan mengetahui posisi dan data target yang ada di sekelilingnya secara pasif, dimana pesawat tidak ikut aktif jika terkena pancaran sinyal RF radar primer. Pancaran tersebut dipantulkan oleh badan pesawat dan dapat diterima di system penerima radar.
2)     Secondary Surveillance Radar (SSR) 
SSR merupakan peralatan untuk mendeteksi dan mengetahui posisi dan data target yang ada di sekelilingnya secara aktif, dimana pesawat ikut aktif jika menerima pancaran sinyal RF radar sekunder. Pancaran radar ini berupa pulsa-pulsa mode, pesawat yang dipasangi transponder, akan menerima pulsa-pulsa tersebut dan akan menjawab berupa pulsa-pulsa code ke system penerima radar.
3)  Air Traffic Control Automation (ATC Automation) terdiri dari RDPS, FDPS. ADBS-B Processing dan ADS-C Processing.
4) Automatic Dependent Surveillance Broadcast (ADS-B) dan Automatic Dependent Surveillance Contract (ADS-C)merupakan teknologi pengamatan yang menggunakan pemancaran informasi posisi oleh pesawat sebagai dasar pengamatan.
5)      Airport Survace Movement Ground Control System (ASMGCS)
6)      Multilateration
7)      Global Navigation Satellite System

G.    PERALATAN RAMBU UDARA RADIO PERALATAN RAMBU UDARA RADIO
Yaitu Peralatan navigasi udara yang berfungsii memberikan signal informasi berupa Bearing ( arah ) dan jarak pesawat terhadap Ground Stastion peralatan dan memberikan informasi berupa IDENT.
a.   Non Directional Beacon (NDB) Fasilitas navigasi penerbangan yang bekerja dengan menggunakan frekuensi rendah (low frequency) dan dipasang pada suatu lokasi tertentu di dalam atau diluar lingkungan Bandar udara sesuai fungsi.
b.  VHF Omnidirectional Range (VOR) Fasilitas navigasi penerbangan yang bekerja dengan menggunakan frekuensi radio dan dipasang pada suatu lokasi tertentu di dalam atau di luar lingkungan Bandar udar sesuai fungsinya.
c. Distance Measuring Equipment (DME) Alat Bantu navigasi penerbangan yang berfungsi untuk memberikan panduan /imformasi jarak bagi pesawat udara dengan stasiun DME yang dituju (Stant range distance). Penempatan DME pada umumnya berpasangan


DAFTAR PUSTAKA

1.      http://kumpulankaryasiswa.wordpress.com/2011/06/14/kegunaan-menara-pengawas-lalu-lintas-udara
2.      soerya.surabaya.go.id/AuP/e-DU.../Transportasi/navigasi/semua.htm
3.      www.juanda-airport.com/index.php?pilih=hal&id=6

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Slider(Do Not Edit Here!)

Search

Main Nav

Banner Ad